Laa
![]()
![]()
Ketahuilah, bahwa lâ nafi itu me-nashab-kan isim nakirah (tidak me-nashab-kan isim ma'rifat) tanpa tanwin (dengan syarat):
- bilamana lâ bertemu dengan isim nakirah (menjadi isim lâ) dan lafazh lâ tidak berulang-ulang.
Contoh:
= tiada seorang laki-laki pun di dalam rumah.
Maksudnya: Tiada seorang laki-laki pun (meniadakan sama sekali); namanya Lâ linafyil jinsi. Jadi mafhum-nya:
![]()
- Kalau lâ itu tidak bertemu dengan isim nakirah, maka diwajibkan rafa' (sebab isim nakirah menjadi mubtada yang diakhirkan) dan lâ-nya wajib berulang-ulang, seperti dalam contoh:
(di dalam rumah itu tidak ada laki-laki dan tidak ada pula wanita).
Lâ yang 'amal-nya demikian itu, tidak meniadakan sama sekali.
![]()
- Kalau lâ itu berulang-ulang (serta bertemu dengan isim nakirah), maka dibolehkan mengamalkan lâ (yaitu me-nashab-kan isim nakirah) dan boleh pula membiarkannya (yakni, tidak me-nashab-kan isim nakirah).
![]()
Apabila kamu menghendaki, katakanlah
(di dalam rumah itu tidak ada laki-laki dan tidak ada pula wanita); dan apabila kamu menghendaki, boleh kamu katakan
(dengan memakai harakat dhammah pada lafazh rajulun dan imra'atun-nya).
Kalau lafazh
dan
di-nashab-kan, maka menjadi isim lâ yang beramal; dan kalau Iafazh
di-rafa'-kan, maka menjadi mubtada dan lafazh
sebagai khabar-nya, sedangkan lafazh lâ-nya di-ilgha-kan atau dibiarkan dan lafazh
di-'athaf-kan kepada ![]()
Kata nazhim:

Hukum (ketentuan) lâ sama dengan ketentuan inna dalam hal mengamalkannya, maka nashab-kanlah dengan lâ bila isim nakirah bertemu dengannya. Tetapi bilamana lâ berulang-ulang, maka kamu harus memberlakukan huruf lâ, demikian pula dalam hal mengamalkan atau meng-ilgha-kannya.

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka kalimat tersebut boleh dibaca:
- lâ beramal

- dengan meng-ilgha-kan lâ

- lâ beramal sebagian, dan

- di-ilgha-kan sebagian

Istitsna
![]()
Arti Istitsna
![]()
Isim yang terletak sesudah illâ atau salah satu saudara-saudaranya.

Huruf istitsna ada delapan macam, yaitu sebagai berikut:
contohnya seperti:
(Kaum itu telah datang kecuali Zaid)
contohnya seperti:
(Kaum itu telah datang selain Zaid)
, 4.
, 5.
artinya sama yaitu: selain.
, 7.
, 8.
artinya sama yaitu: selain.
![]()
Lafazh yang di-istitsna dengan illâ harus di-nashab-kan bilamana keadaan kalamnya bersifat sempurna dan mujab.
Kalam yang sempurna itu ialah:
![]()
Kalam yang disebutkan mustatsna dan mustatsna minhu-nya (lafazh yang dikecualikan dan lafazh pengecualiannya, seperti dalam contoh:
= Kaum itu telah datang kecuali Zaid).
Lafazh
adalah mustatsna minhu, sedangkan lafazh
menjadi mustatsna-nya.
Mujab adalah:
![]()
Kalam mutsbat, yaitu kalam yang tidak disisipi nafi, nahi dan tidak pula istifham.
Contoh:
= kaum itu telah datang kecuali Zaid.
= murid-murid itu telah masuk (sekolah) kecuali Bakar.
Jadi, syarat lafazh yang di-istitsna harus di-nashab-kan itu ialah:
- Kalam tam (lengkap), ada mustatsna dan mustatsna minhu-nya.
- Mujab, yaitu tidak kemasukan nafi, nahi dan tidak pula istifham.
II. Kalau kalam-nya tidak memenuhi persyaratan tersebut, maka hal itu adalah sebagai berikut:
![]()
Apabila kalam-nya ternyata tam (sempurna) lagi manfi (di- nafi-kan), maka lafazh mustatsna-nya boleh di-nashab-kan karena istitsna dan boleh di-badal-kan (bergantung kepada i'rab mustatsna minhu-nya).
Contoh:
= tiadalah kaum itu berdiri kecuali Zaid.
Lafazh Zaid, boleh di-nashab-kan karena istitsna dan boleh pula di-badal-kan dengan memakai harakat dhammah, sebab mubdal minhu-nya lafazh
berharakat dhammah.
= aku tidak melihat kaum itu kecuali Zaid.
Lafazh Zaid itu boleh di-nashab-kan karena istitsna, dan boleh dijadikan badal dari lafazh
.
= aku tidak bersua dengan kaum itu kecuali Zaid.
Lafazh Zaid itu boleh di-nashab-kan karena istitsna dan boleh pula di-jar-kan karena menjadi badal dari lafazh
.
III. ![]()
Kalau kalamnya itu naqish atau kurang (yaitu tidak diterangkan mustatsna minhu-nya), maka i'rab mustatsna-nya bergantung kepada amil-nya yang ada, seperti dalam contoh:
(tiada yang berdiri kecuali Zaid -tidak ada mustatsna minhu-nya).
Lafazh Zaid harus di-rafa'-
.
= tiada yang kupukul kecuali Zaid.
Lafazh Zaid harus di-nashab-kan, sebab menjadi maf'ul dari
.
= tiadalah aku bersua kecuali dengan Zaid.
Lafazh Zaid di-jar-kan oleh huruf ba.
IV. ![]()
Lafazh yang di-istitsna dengan lafazh ghairu, siwan, suwan, dan sawâ-in harus di-jar-kan, lain tidak (sebab menjadi mudhaf ilaih dari lafazh ghair dan sebagainya).
Seperti dalam contoh berikut:
= kaum itu telah datang selain Zaid.
(Lafazh ghair berkedudukan menjadi mudhaf, sedangkan lafazh Zaid mudhaf ilaih).
= tiada ada yang datang selain Zaid.
V. 
Lafazh yang di-istitsna oleh khalâ, 'adâ dan hâsyâ, boleh di-nashab-kan (dengan menganggap khalâ dan sebagainya sebagai fi'il madhi dan mustatsna maf'ul-nya) dan boleh pula di-jar-kan (sebagai mudhaf 'ilaih dari lafazh khalâ dan sebagainya), seperti dalam contoh:
(lp 39-40) (Kaum itu telah berdiri selain Zaid. Contoh lainnya sepertl:
(Kaum itu telah datang selain Zaid dan selain 'Amr) dan sebagainya.
Kata nazhim:
![]()
Keluarkanlah (kecualikanlah) dengan huruf istitsna dari kalam (yang mendahului) sesuatu yang dikecualikan hukumnya dan hal itu telah termasuk pada lafazhnya.
![]()
Lafazh yang berfaedah bagi istitsna itu meliputi illâ, ghairu, suwan, siwan, sawâ-in,
![]()
Khalâ, 'adâ, dan hâsyâ, maka nashab-kanlah dengan illâ lafazh yang dikecualikannya bilamana kalamnya bersifat tamam lagi mujab.
![]()
Apabila istitsna itu ternyata dari kalam tamam yang mengandung nafi,maka badal-kanlah dan di-nashab-kannya dianggap dhaif.
![]()
Kalau ternyata istitsna itu dari kalam naqis (yang tidak ada mustatsna minhu-nya), maka lafazh, illâ di-ilgha-kan (tidak beramal). Adapun amil-nya dipencilkan (yakni, harus beramal pada mustatsna-nya).
![]()
Mustatsna boleh di-khafadh-kan secara mutlak sesudah huruf istitsna yang tujuh sisanya (yaitu, khalâ, hâsyâ dan sebagainya).
![]()
Di-nashab-kan, juga dibolehkan bagi yang menghendakinya, yaitu dengan mâ khalâ, mâ 'adâ, dan mâ hâsyâ.


0 komentar:
Posting Komentar